MOTIVASI
Motivasi, sesuatu yang sulit dijelaskan tetapi pasti bisa kita rasakan. Menurut saya pribadi, motivasi adalah suatu dorongan untuk melakukan suatu hal atau membuat kita melakukan sesuatu , baik dorongan dari dalam diri maupun lingkungan. Dari informasi yang saya dapatkan di internet beberapa pengertian motivasi diantaranya menurut Pitrinch &Schunk , motivasi adalah kondisi psikologis yang menimbulkan, mengarahkan dan mempertahankan tingkah laku tertentu. Beberapa teori yang berhubungan dengan teori motivasi yang lainnya yaitu dari McClelland, dia menyatakan ada 3 motif manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya yaitu motif untuk berhubungan dengan orang lain,motif berkuasa, dan motif berprestasi. Selain itu ada tokoh yang membagi motivasi menjadi dua berdasarkan sumbernya, yaitu motivasi intrinsik dan ektrinsik, pada motivasi belajar, contoh dari motivasi intrinsik misalnya saja ketika seorang anak menyukai mata pelajaran tertentu dan dengan senang hati mempelajari pelajaran tersebut, karena pelajaran itulah yang menjadi motivasinya, sedangkan untuk motivasi ekstrinsik seperti ingin mendapatkan pujian dan nilai(djiwandono, 2002). teori-teori lain mengenai motivasi diantaranya :teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan), teori Clyton Alderfer(ERG,existance, relatedness,growth) teori Herzberg (Teori Dua Faktor, motivasional dan “pemeliharaan”), teori Keadilan,Teori penetapan tujuan, Teori Victor H. Vroom (teori Harapan), teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku,dan teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.
Dalam proses belajar, motivasi belajar tentu sangat diperlukan. Setiap orang pasti memiliki motivasi yang berbeda- beda dalam belajar tetapi akan lebih baik jika motivasi intrinsiknya lah yang muncul seperti pada contoh diatas. Membangun motivasi adalah salah satu tugas seorang pengajar, bagaimana menimbulkan motivasi belajar pada anak dan memelihara motivasi tersebut. Bisa juga dirangsang dengan motivasi-motivasi ektrinsik tanpa memberikan sogokan.
Seberapa besar atau kecil motivasi yang didapatkan untuk belajar akan mempengaruhi hasil dari proses belajar itu sendiri dan kualitas manusianya itu sendiri.
Secara khusus, saya kurang begitu paham bagaimana hubungan antara teori otak dengan motivasi, seperti pada otak bagian mana motivasi ini secara langsung mempengaruhi, dan saya masih agak sulit menemukan hubungan antara otak dan motivasi diinternet, tetapi mungkin motivasi ini akan mempengaruhi emosi dalam diri kita, yang juga berhubungan dengan otak. Dalam penelitian sistem neurolinguistik pada otak, yaitu suatu penelitian mengenai bagaimana otak mengatur informasi, disebutkan bahwa bahasa positif akan meningkatkan tindakan-tindakan yang positif pula yang akan merangsang fungsi otak secara efektif, mungkin motivasi yang tepat bisa menjadi bahasa yang baik yang akan menimbulkan tindakan yang baik serta merangsang kinerja otak.
Perbedaan antara sogokan dan hadiah
Seperti yang telah disinggung diatas, masalah sogokan dan hadiah ini erat kaitannya dengan motivasi belajar, khususnya motivasi ekstrinsik. Menurut penelitian yang dilakukan oleh tim dari Cardiff University, Inggris, seorang anak yang terbiasa “dibayar” permen ketika mereka melakukan hal baik mengakibatkan seorang anak memiliki kecenderungan bertindak kriminal pada saat dewasa. Hal tersebut juga membuat anak-anak belajar “disuap” dan “ menyuap”.
“Menggunakan permen sebagai imbalan atas sikap baik anak-anak berisiko membuat sikap mereka saat dewasa cenderung impulsif,” kata Jeff Kart, salah satu peneliti, dari Cardiff. Pada saat dewasa anak yang sering “disuap” ini akan terbiasa dan berfikiran bahwa sikap baik harus diberi imbalan sehingga akan ada kecenderungan untuk memaksa meminta imbalan jika sikap yang baik telah dia lakukan. Selain itu sikap baik yang dilakukan bisa-bisa bukan berasal dari hati nuraninya, melainkan hanya karena mendapat imbalan saja.
Sama hal nya dengan proses belajar , pemberian “sogokan” dalam proses belajar tidaklah baik. Ketika seorang anak diiming-imingi akan diberi hadiah jika dia belajar sesuatu atau mengerjakan PR dan latihan soal, maka dia tidak belajar dari hatinya sehingga apa yang dia pelajari tidak dimaknai dengan sepenuh hati dan mungkin hanya akan menjadi angin lalu.
Berbeda dengan hadiah, hadiah diberikan ketika seseorang mencapai suatu pencapaian tertentu, seseorang tidak diiming-imingi akan mendapatkan sesuatu terlebih dahulu tetapi ada learning process didalamnya dan ada perjuangan yang dilakukan sepenuh hati tanpa mengharapkan apapun. Hadiah hanya sebagai bonus dari apa yang telah dikerjakan. Hadiah ini bisa juga sebagai penghargaan atas pencapaian. Hadiah ini diharapkan bisa membuat anak merasa dihargai untuk membentuk sikap optimis, dan memantapkan kepercayaan diri. Rasa optimis dan percaya diri akan sangat membantu dalam proses belajar.


